Beranda / Lensa Opini / Inflasi Datang Perlahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Inflasi Datang Perlahan di Tengah Tekanan Ekonomi

persprima.com – Beberapa tahun lalu, uang Rp30.000 masih cukup untuk membeli berbagai kebutuhan harian sederhana. Dengan nominal tersebut, masyarakat masih dapat membeli sayur, beras, minyak goreng, hingga kebutuhan dapur lainnya dengan harga yang relatif terjangkau. Namun, kondisi tersebut perlahan berubah. Saat ini, banyak masyarakat mulai merasakan bahwa biaya hidup semakin meningkat, sementara pendapatan tidak selalu mengalami kenaikan yang seimbang. Akibatnya, daya beli masyarakat terus mengalami tekanan dari waktu ke waktu.

Kenaikan harga kebutuhan pokok kini menjadi keluhan yang semakin sering terdengar, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial. Harga beras, cabai, minyak goreng, hingga biaya transportasi mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak masyarakat mengaku harus mengurangi pengeluaran tertentu agar kebutuhan utama tetap terpenuhi. Tidak sedikit pula yang mulai menunda kebutuhan lain di luar kebutuhan pokok demi menyesuaikan kondisi ekonomi yang semakin berat.

Kondisi tersebut merupakan dampak dari inflasi yang secara perlahan memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dalam batas tertentu, inflasi memang menjadi bagian dari proses ekonomi yang wajar. Namun, ketika kenaikan harga berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi peningkatan pendapatan masyarakat, tekanan ekonomi tentu akan semakin terasa, terutama bagi kelompok menengah ke bawah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 mencapai 2,42 persen. Meski pemerintah menyebut kondisi inflasi masih terkendali, masyarakat tetap merasakan kenaikan harga dalam kehidupan sehari-hari. Selain inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga turut memberikan tekanan terhadap kondisi ekonomi nasional. Melemahnya nilai tukar rupiah dapat memengaruhi harga barang impor serta biaya produksi yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Di sisi lain, kondisi pasar keuangan yang tidak stabil juga menunjukkan adanya ketidakpastian ekonomi. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa periode mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi nasional dan stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun dampaknya tidak dirasakan secara langsung oleh seluruh masyarakat, gejolak ekonomi tetap dapat memengaruhi investasi, lapangan pekerjaan, hingga daya beli masyarakat dalam jangka panjang.

Harga kebutuhan pokok naik sedikit demi sedikit hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang normal. Masyarakat kecil sering menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak kenaikan harga, sementara pemulihan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Banyak masyarakat akhirnya harus bekerja lebih keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar yang sebelumnya masih dapat dipenuhi dengan lebih mudah.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat secara perlahan. Tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus juga berpotensi meningkatkan keresahan sosial, memperlebar kesenjangan ekonomi, dan menghambat kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan stabilitas harga dan perlindungan daya beli masyarakat sebagai prioritas utama.

Pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui kebijakan ekonomi makro semata, tetapi juga harus disertai pengawasan harga kebutuhan pokok dan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah serta kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional perlu terus dijaga agar tekanan ekonomi tidak semakin membebani masyarakat.

Penulis : Rohmah Eka R.
Penyunting : Apri Ahsana Amala

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *