Beranda / Ekspresi / Simfoni Alam Banyuwangi

Simfoni Alam Banyuwangi

Langit Banyuwangi pagi itu seperti kanvas yang baru saja disentuh warna-warna lembut. Semburat jingga berangsur larut dalam biru pucat, seolah enggan benar-benar pergi. Angin laut berembus sepoi-sepoi, membawa aroma asin yang segar dan membangkitkan ingatan.

Selli berdiri di tepi Pantai Pulau Merah, membiarkan ujung rambutnya menari liar. Matanya menatap jauh ke cakrawala, tempat laut dan langit seolah saling berbisik.

“Ini… indah banget,” bisiknya, suaranya hampir hilang ditelan angin. Dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang lama terpendam, seperti ingin meluap.

“Kadang aku mikir…” lanjutnya lirih, tanpa menoleh, “tempat seperti ini bisa bikin kita lupa atau justru ingat tentang hal-hal yang selama ini kita hindari.”

Tak jauh dari sana, Anas masih sibuk dengan kameranya. Ia bergerak cepat, sesekali berjongkok, lalu berdiri lagi, mengatur sudut dengan penuh perhitungan. Wajahnya serius, seolah dunia hanya sebatas bingkai lensa.

“Kalau kamu geser sedikit ke kiri, komposisinya bakal lebih seimbang,” katanya datar.

Selli tersenyum tipis, tapi tidak berpindah “Kamu ya… selalu ingin semuanya sempurna.”

Di atas batu karang, Bian duduk santai sambil memegang kelapa muda. Ia menyeruput pelan, lalu menghela napas panjang, menikmati suara ombak yang datang dan pergi. “Kalian ini, satu terlalu tenggelam dalam perasaan, satu lagi terlalu sibuk mengejar kesempurnaan,” katanya sambil terkekeh kecil.

Anas mengangkat alis “Lebih baik punya tujuan daripada cuma menikmati tanpa arah.”

Bian menoleh, matanya tenang “Atau mungkin… justru karena tanpa arah, kita bisa menemukan hal yang tidak kita cari.” Percakapan itu menggantung di udara, seperti ombak yang belum sempat pecah.

Malam menurunkan dinginnya saat mereka memulai pendakian ke Kawah Ijen. Jalan setapak yang gelap hanya diterangi senter dan cahaya bulan yang samar. Nafas mereka memburu, langkah terasa lebih berat dari yang dibayangkan, Selli beberapa kali berhenti. Bukan karena lelah, tapi karena langit malam terlalu indah untuk dilewati begitu saja. Bintang-bintang bertaburan, seolah menunggu untuk diperhatikan.

“Anas… lihat deh,” katanya pelan, hampir seperti memohon.

Anas hanya melirik sekilas “Kita harus cepat, Sel. Kalau telat, kita akan kehilangan momen blue fire.”

Bian yang berjalan di belakang menghela napas kecil, “Kadang aku heran… kamu lebih takut kehilangan momen yang belum terjadi daripada yang sedang ada di depan mata.” Anas terdiam sejenak, tapi tetap melangkah.

Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai. Dan saat itu, semua kata terasa tidak lagi cukup. Api biru menari di tengah gelap, hidup dan liar, seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Kabut tipis bergerak perlahan, menyelimuti kawah dalam suasana yang liar dan tak sepenuhnya ramah.

Selli menahan napas, air matanya jatuh tanpa ia sadari “Aku… tak pernah merasa sekecil ini… tapi juga sehidup ini.”

Anas berdiri diam, kameranya tergantung begitu saja, tak tersentuh. “Aku biasanya sibuk mencari momen terbaik,” katanya pelan, suaranya berubah, “Tapi sekarang… aku takut kalau aku sibuk memotret, aku malah kehilangan semuanya.”

Bian tersenyum tipis, menatap ke arah api biru.

“Kadang, yang paling indah itu bukan untuk dimiliki… tapi untuk dirasakan.” Angin dingin berhembus lebih kencang, seolah menegaskan bahwa momen itu tidak akan tinggal lama.

Hari terakhir mereka dihabiskan di Taman Nasional Baluran. Hamparan savana membentang luas di bawah sinar matahari sore, udara terasa kering, tapi justru membawa ketenangan yang aneh. Selli berlari kecil, tertawa lepas. Kakinya menyapu rumput, tangannya terbuka, seolah ingin memeluk seluruh dunia.

“Aku suka tempat ini!” teriaknya, suaranya menggema ringan.

Anas berdiri tak jauh darinya, Ia masih memegang kamera, tapi kali ini tidak terburu-buru. Ia lebih sering diam, memperhatikan, menyerap.

“Lucu ya,” katanya tiba-tiba, “biasanya aku datang ke tempat seperti ini cuma buat foto… tapi sekarang aku malah lebih banyak melihat.”

Bian berbaring di rerumputan, menatap langit yang mulai berubah warna. “Berarti kamu lagi belajar,” ujarnya santai.

“Belajar apa?” tanya Anas.

“Belajar bahwa gak semua hal harus kamu kendalikan untuk bisa berarti,” jawabnya.

Sore berangsur turun, langit berubah menjadi cahaya senja, lalu perlahan meredup. Angin savana berembus lembut, membawa sunyi yang terasa luas.

“Kalau disuruh milih satu momen terbaik di Banyuwangi,” kata Bian, “apa?”

Selli tersenyum, matanya sedikit berkaca. “Saat aku merasa kecil… tapi akhirnya jujur sama diri sendiri.”

Anas mengangguk pelan. “Saat aku berhenti mengejar… dan mulai menerima.”

“Kalau aku… saat lihat kalian berubah, walau sedikit,” Bian tersenyum puas. Mereka saling pandang, lalu tertawa pelan, bukan tawa keras, tapi tawa yang penuh pengertian.

Matahari akhirnya tenggelam, meninggalkan langit yang perlahan gelap. Namun, kali ini tidak ada yang merasa kehilangan, karena mereka tahu perjalanan ini tidak benar-benar berakhir. Ia akan tinggal, dalam diam, dalam ingatan, dan dalam cara mereka melihat dunia setelah ini. Dan di antara laut, gunung, dan savana Banyuwangi, tiga cara menikmati hidup yang berbeda akhirnya bertemu, lalu saling melengkapi.

Penulis : Apri Ahsana Amala Tri Wulandari
Penyunting : Maharani Afidatun

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *